Hukum **Gender** (*Tadzkīr/Ta'nīth*) pada *Na't Sababī* **tidak** mengikuti *Man'ūt*, melainkan mengikuti **Ism Ẓāhir** (Nouns yang jelas) yang datang persis setelah *Na't* (yaitu yang disifatinya). Cth: *Jā'at al-Mar'atu **al-Ḥasanu** Abūhā* (Wanita yang ayahnya baik itu datang) -> *Al-Ḥasanu* (Mudzakkar) mengikuti *Abūhā* (Ayahnya - Mudzakkar).